Panggil saja saya Scribble. Pemilik kepala yang sering kali penuh dengan bait puisi, strategi karakter anime, dan kosakata bahasa baru. Blog ini dibuat sebagai ruang jujur untuk menumpahkan segala hal yang saya lihat, rasakan, dan pelajari dalam dinamika hidup sehari-hari.
Katamu: sayang. Aneh, mengapa setelah itu aku belajar membedakan air mata dan darah. Kupikir kasih adalah tempat pulang. Ternyata, ada rumah yang membuat penghuninya berjalan tanpa suara. Aku sempat menutup semua jendela membiarkan dunia kehabisan jalan masuk. Tapi manusia tidak dibuat untuk sepi. Aku tetap membuka sedikit celah, meski tahu angin kadang datang hanya untuk merusak Lalu ketika aku jatuh, kau berdiri cukup jauh untuk melihat dan cukup dekat untuk tidak menolong. Hari itu aku tidak mati, Aku hanya berhenti menunggu, Dan sejak itu aku belajar: pergi juga bentuk lain dari menyelamatkan diri. ...
Mereka belajar membuangku seperti ludah, yang sudah kehilangan rasa. Aku mengecil pelan-pelan, hingga suaraku sendiri, tak mengenali namaku. Tak ada yang pecah, Tak ada yang benar-benar luka, Seseorang hanya berhenti dianggap ada. Lalu sebuah tangan, datang tanpa gaduh, Mengangkatku. seolah tubuh rapuh, masih pantas disentuh. Dan untuk pertama kalinya, aku tahu: bahkan barang yang dibuang, masih bisa gemetar, ketika diterima.
Lalu apa yang paling indah dalam jejak itu sendiri?
ReplyDeletekenangan yang terlukis dari ribuan debu dan pasir yang memberikan tumpuan bagi kaki
ReplyDelete