Posts

MAWAR DIANTARA ABU

Image
  Tak dihargai, dihina Bahkan dianggap angin lalu Ditertawai, dikhianati Bahkan ditekan sampai menghilang  Tunduk  Hanya itu aku bisa Menangis, menjerit  Tiada yang mendengar Pilu ku Keluh kesahku hanya angin yang menyapa  Lalu pergi entah kemana  Sakit, tenagaku hilang Dudukpun rasanya sakit sekali  Hingga tiba tiba  Terulur tangan itu Senyumannya  Hangat tangannya Membuat hatiku gemetar Erat  Sangat erat aku di genggamnya tanganku  Hingga aku yakin  Aku masih manusia

" Saat Udara Mulai Berpihak"

Image
Kala awan hitam mendekati dan menyusup ke jiwa, kala kesesakan dan kepenatan mengepung di sekelilingku. Kutemukan secercah cahaya; angin, udara, dan mentari melangkah masuk melalui sebuah lubang kecil. Angin semilir menyapa, tersenyum ramah padaku. Mentari memancarkan sinar, membiaskan hangat ke sela jiwa. Udara mengalirkan napas baru, merayap di sela nadi yang beku. Keindahan dan kehangatan dari hatimu... merasuk dan membasahi tubuh

"Ada Yang Datang Bersama Angin"

Image
" beberapa hal datang   tanpa suara,  l alu mengubah semuanya"                                                                       Saat awan hitam mulai menyusup ke kepala,  dan sesak perlahan membuat dunia terasa sempit aku sempat berpikir bahwa semuanya akan tetap gelap seperti itu. Hingga sebuah celah kecil diam-diam terbuka. Dari sana, angin masuk lebih dulu. Pelan, tenang. Seolah tahu bagian mana dari diriku yang paling lelah bertahan. Lalu cahaya datang. Tidak terlalu terang, namun cukup untuk membuatku sadar bahwa dunia belum sepenuhnya kehilangan warna. Udara mulai memenuhi paru-paru, dan untuk pertama kalinya aku berhenti merasa sedang tenggelam. Aneh ya— kadang seseorang tidak perlu menyelamatkan kita. Cukup hadir, dan membuat hidup terasa sedikit lebih ...

"YANG TERTINGGAL DARI SUARAMU"

Image
Petikan jarimu tak pernah terburu-buru,  Nada-nada kecil itu masuk diam-diam menemukan ruang yang lama tak tersentuh.  Aku tak ingat percakapan kita seluruhnya.  Tapi aku ingat bagaimana aku bisa tertawa  tanpa merasa sedang bertahan.  Waktu ternyata singkat.  Dan laut, seperti biasa,  Pandai menyimpan hal-hal yang tak  sempat dipeluk lebih lama.  Ketika jarak membawa wajahmu pergi aku baru tahu:  tenang juga bisa dirindukan.  Kini yang tersisa bukan suaramu melainkan cara dunia terasa sedikit lebih lembut                                                                              "Selembut apa dunia yang ditinggalkan seseorang buatmu?"                 ...

" Labirin di Balik Pintu Kedua"

Image
  Aku menyimpan sebuah kunci, yang tidak pernah cocok di pintumu. Kamu menyisakan sebuah ruang, yang terkunci rapat dari ketukanku. Kita adalah dua orang asing, yang hafal letak tahi lalat di punggung masing-masing. Menatap cermin yang sama, namun melihat musim yang berbeda. Hari ini, aku membakar peta jalan pulang. Bukan karena aku tersesat, tapi karena aku tahu... kamu sengaja mengubah nama jalanannya. Di sela dinding labirin ini, ada satu rahasia yang sengaja tidak kutulis. Sesuatu yang membuatmu sadar, bahwa kita sudah selesai, bahkan sebelum kata "kita" sempat dimulai. Menurutmu, pintu mana yang sebenarnya sengaja kita kunci?

Perhiasan Paling Indah Itu Menghancurkanku

Image
                                         " Tidak semua yang indah,  pantas dibiarkan tinggal"   Egois. Perhiasan ntuk keadaan, kelakuan, bahkan perasaan. Namun, cocok dipasang di mana? Permukaan yang awalnya bersih, pelan tapi pasti mulai menghitam. Keahlian penciptanya perlahan hilang pada tekstur. Jutaan warna-warni enggan tinggal, seolah wabah datang menyentuh semuanya. Kucoba memasangnya pada kelakuan Terdengar suara sedih yang sangat menyakitkan, memilukan Keadaan dan perasaan membencinya, mengusirnya bagaikan penyakit mengerikan. Tawa yang dulu selalu terlukis di bibir, kini tertahan, digantikan kuatnya sinis. Namun perasaan lebih mengenaskan. Ia merasakan semuanya. Mulai dari kesedihan mendalam, kehilangan warna, hingga tanpa sadar menjadi akar dari sinis itu sendiri. Penyebab hilangnya tekstur. Penyebab datangnya hitam pada keadaan. Ia...

"Seperti Ludah yang Kehilangan Rasa"

Image
  Mereka belajar membuangku seperti ludah, yang sudah kehilangan rasa.   Aku mengecil pelan-pelan, hingga suaraku sendiri, tak mengenali namaku.    Tak ada yang pecah, Tak ada yang benar-benar luka, Seseorang hanya berhenti dianggap ada.    Lalu sebuah tangan, datang tanpa gaduh, Mengangkatku. seolah tubuh rapuh, masih pantas disentuh.    Dan untuk pertama kalinya, aku tahu: bahkan barang yang dibuang, masih bisa gemetar, ketika diterima.  

"KATAMU: SAYANG"

Image
                        Katamu: sayang. Aneh, mengapa setelah itu aku belajar membedakan air mata dan darah. Kupikir kasih adalah tempat pulang. Ternyata, ada rumah yang membuat penghuninya berjalan tanpa suara. Aku sempat menutup semua jendela membiarkan dunia kehabisan jalan masuk. Tapi manusia tidak dibuat untuk sepi. Aku tetap membuka sedikit celah, meski tahu angin kadang datang hanya untuk merusak                                                          Lalu ketika aku jatuh, kau berdiri cukup jauh untuk melihat dan cukup dekat untuk tidak menolong. Hari itu aku tidak mati, Aku hanya berhenti menunggu, Dan sejak itu aku belajar:  pergi juga bentuk lain dari menyelamatkan diri.                   ...

FRAGMEN DEBU

Image
  Kasut itu lewat, Debu lenyap tanpa sempat menjadi jejak. Tak ada bunyi,  tak ada duka yang cukup besar untuk didengar. Hanya tanah yang diam-diam, mengembalikan semua yang diinjak.